Dakwah Islam Papua, Dakwah Menyejukan?

oleh
Karmin Lasuliha

Oleh : Karmin Lasuliha (Direktur Lembaga Kebijakan Publik Dan Komunikasi Politik Lingkar Papua / Tokoh Pemuda Papua)

HARIANPAGI.ID, JAYAPURA – Dakwah adalah syiar agama yang dijalankan oleh setiap individu maupun kelompok organisasi yang memiliki keyakinan. Dakwah memiliki konsekuensi pengorbanan, baik harta bahkan nyawa. Esensi dari dakwah sendiri adalah nilai-nilai pendidikan, etika, dan moral.

Sejarah kelahiran dan perkembangan dakwah sudah sejak zaman manusia pertama dilahirkan. Dakwah yang berdasar pada pemahaman nilai pendidikan, etika, dan moral akan mencegah cara-cara anarkis. Tidak akan ada masjid atau gereja yang dibakar dengan sengaja seperti yang terjadi di Aceh, Palu, dan Papua. Tidak akan ada peraturan-peraturan daerah yang memarjinalkan suatu agama dan agama lainnya. Tidak akan muncul permasalahan yang berujung pada konflik agama. Tidak akan ada pula pembunuhan karena kumandang adzan sebagai panggilan ibadah serta pelarangan pembangunan rumah ibadah.

“Dakwah seharusnya dijalankan dengan langkah-langkah yang teratur dan bersinergi…”

Belajar dari sejarah terdahulu, dakwah seharusnya dijalankan dengan langkah-langkah yang teratur dan bersinergi antarorganisasi atau individu dengan lainnya. Setiap kelompok atau individu yang akan menjalankan misi dakwah harus bersedia untuk membuka diri seraya membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak lain yang juga menjalankan misi yang sama. Peran ini dapat dibagi dengan baik sesuai dengan porsi dan kemampuan masing-masing hanya dengan sikap saling terbuka dan komunikasi yang dilakukan secara setara. Dengan berbagi peran, diharapkan gerak setiap organisasi atau individu adalah komplementer (pelengkap) dari apa yang telah dikerjakan oleh pihak lain.

Selain itu, bagaimana cara yang tepat dalam berdakwah juga memiliki peran yang penting dalam keberhasilan dakwah itu sendiri;

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl: 125)

Dalam perspektif ini, firman Allah SWT telah jelas menggariskan dakwah harus dilakukan dengan cara penuh hikmah, dan baik. Meminjam istilah Mario Teguh, menyampaikan kebenaran dengan cara yang tidak santun, hanya akan membuat orang membenci kebenaran. Hanya dengan cara yang tepat, dakwah lebih mudah diterima sebagai ajakan kebaikan.

“Demi masa,

sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, 

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1–3)

Firman Allah SWT ini jelas menunjukkan perintah kepada setiap manusia untuk beriman, beramal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Jika Firman Allah SWT ini dijadikan landasan, wajib bagi setiap muslim (beriman dan mengerjakan amal saleh) untuk mengemban dakwah. Atas dasar perintah Allah SWT ini pula, saat ini kita menyaksikan gairah dakwah yang sangat besar dari berbagai organisasi, kelompok, maupun individu. Ini tentu adalah suatu fenomena yang melegakan di tengah arus perubahan dunia yang kian hari makin menyeret umat Islam keluar dari ajaran mulia Allah SWT melalui rasul-Nya, Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *