Geothermal Sebagai Key Driver Pengembangan Renewable Energy Indonesia

oleh
Koordiantor Wilayah ICER Jawa Barat, Hasyemi Faqihudin (Tengah), Biem Triani Anggota DPR Fraksi Gerindra (Kanan), Sutrisno Pengamat Sosial (Kiri)

Oleh : Hasyemi Faqihudin (CEO Harian Pagi)

HARIANPAGI.ID, JAKARTA – Keberadaan energi di Provinsi Jawa Barat (Jabar) merupakan potensi gas bumi terbesar di indonesia. Keberuntungan ini merupakan keuntungan besar apabila potensi ini dapat dimanfaatkan dengan baik secara nasional, hingga menjadi cadangan energi panas bumi yang terbesar di Indonesia. Hingga kini potensi lapangan panas bumi itu pun sudah dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik,  antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Kamojang, PLTP Darajat, PLTP Wayang Windu, dan PLTP Salak.

Dalam letak geografis pada setiap sumur potensi panas bumi di jawa barat terdapat pada titik lokasi di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, antara lain sumur kamojang yang potensinya diperkirakan sekitar 300 Mega Watt. Namun dalam uraian sumber informasi, panas bumi tersebut baru sebagian dimanfaatkan sekitar 140 Mega Watt. Dalam hal ini PLTP Kamojang bisa memasok total kapasitas energi listrik sebesar kurang lebih sekitar 140 �” 200 Mega Watt, yang terdiri dari beberapa unit yakni PLTP Unit 1 dengan produksi energi listri sebesar 30 Mega Watt, unit 2 dan 3 memiliki masing-masing total kapasitas energi listrik sebesar 55 Mega Watt, dan PLTP unit 4 memiliki kapasitas energi listrik sebesar 60 Mega Watt. Keseluruhan total energi listrik yang bisa dihasilkan dari PLTP Kamojang yang akan dialirkan guna memasok sistem transmisi (interkoneksi) ke pulau Jawa dan Bali.

Selain itu, studi kasus yang lainnya dalam pemanfatan potensi besarnya gas bumi di jawa barat ialah PLTP Salak, yang bertempat di area sekitar taman nasional gunung salak. Pembangkit listrik ini berlokasi kurang lebih 1.400 meter dari permukaan laut mempunyai total kapasitas listrik sampai 377 Mega Watt dan dapat memberikan

sebagian pasokan listrik ke jaringan jawa dan bali.  Selain itu juga mempunyai 6 unit turbin uap panas bumi. Sehingga bisa beroperasi 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Juga keberadaan di tiap sumur seperti sumur patuha yang potensinya 482 MW, sumur Wwyang windu 460 MW yang sudah dimanfaatkan sekitar 110 MW, sumur darajat yang potensinya sekitar 350 MW juga sudah dimanfaatkan 145 MW, dan Sumur Awi bengkok/Gunung Salak yang potensinya 600 MW dimanfaatkan hingga 330 MW. Dan berdasarkan informasi dalam potensi sumur panas bumi.

Sistim panas bumi di Indonesia merupakan hydrothermal dengan temperatur tinggi (> 225oC) terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan konveksi.  Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan  sedangkan perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dan sumber panas. Hal ini pun menurut beberapa ahli panas bumi, provinsi jawa barat masih banyak memiliki potensi panas bumi lainnya.

Seperti di parahyangan di sumur karaha yang di perkirakan potensi mencapai 250 Mega Watt, sumur talaga bodas dengan potensi 275 Mega Watt, sumur tangkuban parahu memiliki potensi 190 Mega Watt, Hingga sumur gunung dede-Pangrango dan sumur Batukuwung di prediksi potensi mencapai  105 �” 260 Mega Watt. Dalam hal ini tanpa disadari masyarakat jawa barat hidup di atas tungku panas bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *