Imlek dan Surat Rindu Umat Khonghucu kepada Presiden Jokowi

oleh

Kris Tan : Alumnus Magister Fakultas Ushuluddin UIN Ciputat dan Ketua Umum Forum Masyarakat Kelenteng Indonesia (FORMAKIN)

HARIANPAGI.ID, JAKARTA – Mendengar informasi Presiden Jokowi akan hadir pada perayaan Imlek Nasional yang akan diadakan pada 7 Februari 2019 oleh entah siapa tidak jelas yang mengklaim sebagai repesentasi Tionghoa Indonesia.

Umat Khonghucu Indonesia merasa disambar petir di siang bolong? Kenapa? Hal ini disebabkan belum pernah hadirnya seorang Presiden Jokowi pada perayaan Imlek MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) yang merupakan representasi lembaga keagamaan Khonghucu di Indonesia

Umat Khonghucu Indonesia memang ibarat anak ialah anak terkecil di negeri ini, anak kurang perhatian akibat dari tindakan dikriminasi di zaman orde baru. Dulu ketika Presiden Abdurahman Wahid menjadi seorang “Ayah Bunda” negeri ini beliau tahu persis kegalauan anak terkecilnya yang didiskriminasi, maka Presiden Gus Dur pasang badan untuk menjaga hak-hak anak terkecilnya di negeri ini. Demikianlah Gus Dur menjadi “Ayah Bunda” seluruh rakyat Indonesia siapapun dia.

Kegalauan umat Khonghucu Indonesia tentunya bukan tanpa alasan. Karena meski dicatat bahwa ketika Presiden Jokowi menjadi presiden di republik ini, belum pernah sekalipun beliau hadir pada perayaan Imlek Nasional MATAKIN yang dihadiri ribuan umat Khonghucu.

Entah apa yang ada dalam benak presiden Jokowi menyoal tidak pernahnya beliau hadir dalam acara Imlek tersebut.

Namun umat Khonghucu Indonesia tidak mau suudzon mereka selalu berusaha memaklumi kesibukan Presiden Jokowi dalam memimpin negeri yang besar dan agung ini. Umat Khonghucu selalu berusaha tahu diri tidak ingin merepotkan “Ayah Bunda” nya.

Tidak kali tidak hadir, tiga kali Imlek tidak datang itu merupakan hal yang dapat di maklumi. Namun jika empat kali presiden Jokowi tidak hadir juga sungguh hal yang menyedihkan dan mendukakan perasaan umat Khonghucu Indonesia yang butuh di sapa, di jenguk oleh “Ayah Bunda” nya

Bagi umat Khonghucu Imlek bukan hanya persoalan budaya tapi Imlek persoalan momentum suci umat Khonghucu hal ini sama dengan momentum Natal bagi umat Kristiani. Imlek adalah saatnya bersuci diri kembali memperbaiki diri, memperbaharui diri lebih baik lagi sehingga bermanfaat bagi kemanusiaan di bumi.

Tulisan ini tidak untuk meyudutkan presiden Jokowi, tulisan ini hanya untuk memberikan sapaan hangat kepada Presiden Jokowi bahwa masih ada “anak terkecil” di negeri ini yang sangat merindukan kehadiran “Ayah Bunda”nya. Tulisan ini mewakili seluruh perasaan umat Khonghucu Indonesia yang begitu mendambakan kehadiran Presiden Jokowi untuk menyapa dan hadir dengan hangat merayakan Imlek yang penuh kesederhanaan untuk doa bersama dengan “Ayah Bunda” nya bagi kebaikan negeri ini.

Penulis coba membayangkan seruan umat Khonghucu Indonesia kepada Presiden Jokowi dengan berseru “Wahai Ayah Bunda Rakyat hadirlah pada Imlek kami. Kami merindukanmu sebagai “Ayah Bunda” kami. Kami rindu pemimpin yang mengayomi kami yang kecil ini. Tuhan melihat seperti rakyat melihat. Tuhan mendengar seperti rakyat mendengar. Kebajikan seorang pemimpin laksana angin, kebajikan rakyat laksana rumput. Kemana angin bertiup disitu rumput mengarah.

Umat Khonghucu Indonesia selalu mendoakan kesehatan dan kekuatan bagi Presiden Jokowi dalam memimpin negeri ini. Semoga Presiden Jokowi sudi menimbang dan memperhatikan hal ini. Selamat bertugas Presiden Jokowi ingatlah dan bahagiakanlah serta sayangilah anak-anakmu semua.

Salam Kebangsaan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *