Penghafal Ilmu dan Pecinta Ilmu

oleh

Muh. Nur. Jabir
Majelis pakar DPP Syarekat islam

HARIANPAGI.ID, JAKARTA – Setiap orang terhubung secara khusus dengan alam ini. Tentu tidak terkait dengan seluruh alam, tapi terelasi dengan bagian-bagian tertentu dari realitas alam. Keluasan jiwa seseorang akan menentukan relasi keluasan alam yang dimilikinya.

Kata Wittgenstein, “bahasa yang kita gunakan menunjukkan batasan alam kita”. Artinya, kekayaan bahasa yang dimiliki seseorang menunjukkan keluasan alam yang dimilikinya.

Nabi Ya’qub as dengan keluasan jiwa yang dimilikinya, mampu mencium aroma pakaian Yusuf dari jarak yang cukup jauh. Sementara pada saat yang sama, Benyamin yang membawa pakaian Yusuf, tak bisa mencium aroma batin pakaian Yusuf, padahal tak ada jarak yang memisahkan antara dirinya dengan pakaian Yusuf.

Kata Maulana Rumi;

Apa yang disaksikan Ya’qub akan aroma Yusuf,
hanya untuk Ya’qub,
Kapankah saudara-saudara Yusuf seperti ini?

Manusia yang tercemar dengan keburukan tak dapat mencium aroma sorgawi. Demikian halnya, solat tidak akan sah tanpa kesucian.

Maulana Rumi menggambarkan kedalaman batin pengetahuan Ya’qub dengan bahasa “begitu lapar terhadap aroma Yusuf”;

Betapa lapar Yaqub terhadap aroma Yusuf,
Dari jarak jauh,
Ya’qub mencium aroma pakaian Yusuf,
Tapi si pembawa pakaian Yusuf,
sedikitpun, tak merasakan aroma itu,

Kemudian bait syair berikutnya, Maulana Rumi menyimpulkan, boleh jadi ada orang alim yang tak mampu mengambil manfaat dari pengetahuannya. Boleh jadi ada orang awam, saat mendengarkan nasehat ulama dengan ketulusan hatinya, mampu mendapatkan inayah dan rezeki makrifat Ilahi. Orang alim itu hanya mampu menghafal ilmu, sedangkan si awam begitu cinta terhadap makrifat.

Orang alim yang hanya mampu menghafal ilmu, sebenarnya, ilmu tersebut tak lebih hanya kehinaan baginya karena apa yang ia ketahui belum bersemayam di dalam jiwanya.

Mereka adalah para pengusaha ilmu dan penjual ilmu, bukan pecinta ilmu. Perumpamaan mereka di dalam kisah Yusuf, seperti penjual budak yang tak memperoleh keuntungan apa pun dari budak itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *