Penyembuhan Jiwa Masal Usai Pemilu

oleh

Oleh : Megawaty, S.Psi (Ketua umum PP Wanita Pertahanan Ideologi Syarikat Islam)

HARIANPAGI.ID, JAKARTA – Perhelatan pemilu 2019 telah usai. Pemilihan umum yang kali ini digelar secara serentak ; dimulai dari pemilihan presiden dan legislatif dari tingkatan daerah hingga pusat, menuai pro dan kontranya sendiri.Pemilihan umum yang menimbulkan banyak korban jiwa merupakan efek domino dari sebuah polarisasi besar yang sedang terjadi saat ini. Terjadinya polarisasi menjerat kita pada pengkotakan dalam masyarakat. Dua kubu yang tengah berkompetisi memperebutkan kursi yang sama memicu euforia warga dalam pesta demokrasi tersebut.

Dikotomi yang hadir mencuri fokus semua orang.Kita terjebak pada kondisi yang tidak dapat memberikan pilihan lain untuk menentukan masa depan bangsa. Namun pada orang yang mulai lelah dengan tontonan drama panjang ini lebih memilih untuk menjadi golongan orang-orang yang tidak memilih atau kita menyebutnya dengan golput ; golongan putih. Golongan tersebut merupakan sikap pesimis yang terjadi dan berujung pada sikap antipati. Pesimis pada siapapun yang terpilih, Indonesia tetap tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dinamika kelompok telah terjadi di dalam masyarakat.

Pada suatu konsepsi, Floyd D. Ruch dalam bukunya, Psychology and life  mengatakan bahwa dinamika kelompok terjadi dari hubungan kelompok sosial yang dinamis dari dalam dan luar kelompok. Hematnya seperti ini, dalam suatu kelompok kita akan membuat in-group yang dibangun bersasarkan interaksi dan keterhubungan serta minat yang sama. Lalu, kelompok yang telah membuat struktur dan in-group nya masing- masing akan mengadakan saingan dan saling memghambat usaha kelompok di luar mereka (out group). Dari sinilah akan terbentuk sikap negatif, prasangka dan setereotipe terhadap kelompok yang menjadi out group. Dinamika kelompok tersebut dipandang wajar. Namun sayangnya, pandangan negatif yang berlebihan pada out groupharus diwaspadai. Prasangka tersebut menuntun kita pada mental yang sakit jika sudah ada motif destruktif di dalamnya.

Bangsa kita dibangun dalam semangat kebhinekaan, semangat persatuan dan perjuangan yang luar biasa untuk bangkit dari penindasan. Mungkinkah karena dinamika kelompok yang terjadi, kita melupakan prinsip dan tujuan kita berbangsa dan bernegara?

Melihat situasi yang ada, Indonesia harus banyak belajar dari negara maju yang “katanya” menjadi panutan dalam berdemokrasi dan berpolitik. Secara gamblang, Indonesia masih meniru sistem pemerintahan negara adidaya, Amerika serikat. Namun pada praktiknya Indonesia dinilai belum siap secara infrastruktur dan mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *