![]() |
| Yuniar Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Kalimantan Selatan |
Baca Juga: Jaecoo J8 Ardis, Ini Eksterior dan Interiornya
“Reformasi tersebut mencakup pengungkapan nama pemegang saham di atas 1 persen, peningkatan minimum free float menjadi 15 persen, hingga penguatan klasifikasi investor yang lebih granular,” ucap Yuniar dalam Workshop Wartawan Daerah di Bon Café Duta Mall Banjarmasin, Rabu (29/4/2026)
Menurut Yuniar, BEI menilai langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan transparansi dan perlindungan investor. Salah satu kebijakan yang diperkenalkan adalah pengumuman saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau High Shareholder Concentration.
“Melalui kebijakan itu, publik dapat mengetahui saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok kecil pemegang saham sehingga berpotensi memiliki volatilitas tinggi,” tukasnya.
Baca Juga: Jaecoo J8 Ardis, Ini Eksterior dan Interiornya
Bahkan, sambungnya, BEI juga menetapkan peningkatan ketentuan free float minimum menjadi 15 persen agar likuiditas pasar modal Indonesia meningkat dan selaras dengan praktik terbaik bursa global.
Ketentuan tersebut akan diterapkan secara bertahap hingga 2029 berdasarkan kapitalisasi pasar dan persentase free float masing-masing emiten.
Sektor Potensial di Tengah Ketidakpastian
Di tengah tekanan pasar global, sejumlah sektor masih dinilai memiliki prospek positif pada 2026. Sektor consumer non-cyclical disebut relatif defensif karena ditopang kebutuhan pokok masyarakat dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Jaecoo J8 Ardis, Ini Eksterior dan Interiornya
Sementara sektor perbankan dinilai masih menarik meski menghadapi tekanan margin bunga dan capital outflow asing. BEI mencatat sektor perbankan tetap didukung pertumbuhan kredit serta potensi stimulus pemerintah.
Pada sektor basic material, saham berbasis nikel dan emas dinilai masih memiliki prospek positif karena didukung harga komoditas dan transisi energi global. Emiten seperti MDKA, INCO, ANTM, dan TINS disebut memiliki peluang pertumbuhan laba yang kuat.
Sementara itu, sektor kesehatan dinilai tetap defensif untuk investasi jangka panjang karena permintaan layanan medis yang stabil. Namun pelemahan rupiah disebut dapat menekan margin emiten farmasi yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Baca Juga: Jaecoo J8 Ardis, Ini Eksterior dan Interiornya
BEI juga menyoroti sektor infrastruktur dan energi sebagai sektor strategis yang tetap didukung kebijakan pemerintah, termasuk pembangunan jalan, irigasi, transportasi massal, energi terbarukan, hingga infrastruktur digital.
Bursa Karbon Indonesia Terus Bertumbuh
Selain pengembangan ETF emas, BEI juga melaporkan perkembangan positif Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon. Hingga 24 April 2026, volume perdagangan karbon telah mencapai 1,97 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi Rp93,72 miliar.
Baca Juga: Jaecoo J8 Ardis, Ini Eksterior dan Interiornya
Jumlah pengguna jasa IDXCarbon meningkat menjadi 153 entitas dengan total proyek tercatat mencapai 10 proyek karbon. Aktivitas retirement karbon juga meningkat dengan total volume retirement mencapai 1,33 juta ton CO2 ekuivalen. Aktivitas tersebut dilakukan baik oleh perusahaan maupun individu untuk berbagai kebutuhan, termasuk offset emisi dan kegiatan sosial.
Meski menghadapi tantangan global dan tekanan eksternal, pasar modal Indonesia pada 2026 masih menunjukkan fundamental pertumbuhan yang cukup kuat, terutama dari sisi jumlah investor, inovasi produk, dan reformasi transparansi pasar.
Baca Juga: Jaecoo J8 Ardis, Ini Eksterior dan Interiornya
Pemerintah, OJK, dan BEI berharap berbagai langkah strategis tersebut dapat memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global. (tim/arh)


