Workshop Wartawan Daerah, Ini Perkembangan Pasar Modal Indonesia 2026

 
Perkembangan Pasar Modal di Workshop Wartawan Daerah

HARIANPAGI.ID, BANJARMASIN - Pasar modal Indonesia sepanjang 2026 menghadapi dinamika yang cukup menantang di tengah tekanan geopolitik global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga arus modal asing yang masih mencatatkan aksi jual.

Baca Juga: Kampus Gunadarma Masuk Ibu Kota Nusantara

Hal itu diungkapkan Yuniar Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam paparan update ‘Perkembangan Pasar Modal Indonesia’ di workshop Wartawan Daerah di Kota Banjarmasin, Rabu (29/4/2026).

Meski begitu, sambung Yuniar, Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap mencatat pertumbuhan jumlah investor yang signifikan, terutama dari kalangan generasi muda dan investor ritel

Dalam laporan tersebut, Menurut Yuniar, BEI menyebutkan bahwa jumlah investor pasar modal Indonesia meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. 

Baca Juga: Kampus Gunadarma Masuk Ibu Kota Nusantara

Per 24 April 2026, jumlah investor telah mencapai 26,12 juta investor, melonjak dibanding 3,9 juta investor pada 2020. Pertumbuhan tersebut menunjukkan kenaikan hingga 538 persen dalam periode lima tahun terakhir.

“Selain jumlah investor, jumlah perusahaan tercatat di BEI juga terus bertambah menjadi 957 emiten pada April 2026. Aktivitas investor ritel pun semakin mendominasi transaksi pasar modal Indonesia.,” tambahnya.

IHSG Tertekan Konflik Geopolitik

Di sisi lain, Yuniar menjelaskan, BEI mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup besar sejak awal tahun 2026. Pelemahan IHSG dipicu berbagai faktor eksternal, termasuk meningkatnya tensi geopolitik global seperti konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran, pelemahan rupiah, hingga kekhawatiran terhadap defisit fiskal.

Baca Juga: Kampus Gunadarma Masuk Ibu Kota Nusantara

“Aksi jual investor asing menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap IHSG dan rupiah sepanjang awal tahun 2026. Bahkan, sebagian besar indeks saham global mengalami koreksi setelah konflik geopolitik meningkat di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut turut mempengaruhi pasar saham Indonesia yang berada dalam kategori emerging market,” bebernya.

Hingga akhir April 2026, IHSG disebut sempat mengalami fase menantang setelah mencetak rekor tertinggi di level 9.174 pada Januari 2026. Tekanan eksternal dan koreksi teknikal membuat indeks kembali bergerak di kisaran 7.100 hingga 7.300.

Investor Ritel dan Generasi Muda Mendominasi

Salah satu poin penting dalam perkembangan pasar modal Indonesia adalah meningkatnya dominasi investor ritel. Berdasarkan data BEI dan KSEI, komposisi transaksi investor ritel terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Kampus Gunadarma Masuk Ibu Kota Nusantara

Menurut Yuniar, BEI menyebut generasi muda menjadi penggerak utama pasar modal Indonesia. Investor berusia di bawah 30 tahun masih mendominasi jumlah investor ritel di Indonesia hingga Maret 2026.

Selain itu, tingkat literasi dan inklusi keuangan di sektor pasar modal juga mengalami peningkatan, meski masih relatif rendah dibanding sektor jasa keuangan lainnya.

Baca Juga: Kampus Gunadarma Masuk Ibu Kota Nusantara

Untuk memperkuat literasi pasar modal, BEI telah memiliki 1.047 Galeri Investasi dan 29 kantor perwakilan di berbagai daerah di Indonesia.

ETF Emas Segera Diluncurkan

Pada bagian lain, Yuniar memastikan salah satu inovasi terbesar yang disiapkan pasar modal Indonesia pada 2026 adalah pengembangan ETF Emas atau Gold ETF.

“ETF emas akan menjadi alternatif investasi baru yang didukung aset emas fisik dan dapat diakses investor domestik maupun global,” tandasnya.

Baca Juga: Kampus Gunadarma Masuk Ibu Kota Nusantara

Apalagi, sambung Yuniar, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ETF emas karena merupakan salah satu produsen dan pemilik cadangan emas terbesar di dunia. 

Dalam materi tersebut disebutkan Indonesia berada di peringkat kedelapan produsen emas dunia dengan produksi 132,5 ton pada 2023.

“BEI menilai ETF emas dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain emas global sekaligus mendukung pengembangan ekosistem bullion nasional. Produk tersebut juga diharapkan meningkatkan aset kelolaan industri reksa dana dan memperluas variasi instrumen investasi pasar modal Indonesia,” katanya.

BEI menyebut lebih dari 10 manajer investasi telah menyatakan minat untuk menerbitkan ETF emas dan beberapa di antaranya sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan pelaku pasar terkait.

ETF emas juga telah memperoleh Fatwa DSN-MUI Nomor 163/DSN-MUI/VIII/2025 tentang ETF Syariah Emas. (tim/arh)

 

 

 

 

 


Lebih baru Lebih lama