![]() |
| Ikan Sapu-Sapu |
HARIANPAGI.ID, JAKARTA - Siapa sangka ikan yang biasa ada di akuarium Anda sebagai pembersi alami dengan memakan alga, lumut, hingga sisa pakan ikan bisa menjadi sebuah ancaman bagi ekosistem sungai sehingga perlu ditangani karena dapat berdampak dalam aspek aktivitas dan ekosistem sungai atau bahkan juga kesehatan Anda.
Baca Juga: Makin Menarik, Nissan Navara Cocok di Perkotaan
Ikan sapu-sapu bukan spesies satwa asli Indonesia, melainkan berasal dari Amerika Selatan terutama di wilayah Amazon dan sekitarnya karena karakter dari laut Amazon ini merupakan lingkungan alami bagi ikan sapu-sapu karena kemampuan bertahan hidup di air yang kadar oksigen rendah, bahkan lingkungannya tercemar sekalipun.
Baca Juga : Baca Juga: Makin Menarik, Nissan Navara Cocok di Perkotaan
Mitos atau fakta
Lalu bagaimana mereka masuk ke Indonesia? Mereka masuk ke Indonesia melalui industri ikan hias yang dapat berfungsi sebagai pembersi alami terutama bagi akuarium ikan hias. Melansir dari berbagai sumber juga penyebaran ikan sapu-sapu di sungai maupun danau ibu kota ini utamanya disebabkan oleh damping, dan dilepas ke alam hingga terlepas juga dari budidayanya.
Dan di sisi lain kapasitas reproduksi ikan jenis betinanya ini juga sangat masif, bahkan bisa menyentuh ratusan hingga ribuan telur perproduksinya.
Lalu bagaimana dengan berbagai hal yang menjadi diskursus publik adalah salah satu pertanyaan yang berkembang di kalangan masyarakat karena berkaca dari fungsi di akuarium ikan hias, apakah ikan sapu-sapu juga bisa membersihkan sungai? Meski ikan sapu-sapu ini memakan alga dan sisa organik tetapi bukan berarti bisa berfungsi sebagai pembersi efektif ekosistem sungai kita.
Meski dikategorikan sebagai omnivora atau pemakan segala tetapi tidak menghilangkan polusi kimia atau pencemaran di sungai kita. Dan salah satu faktor penyebab pencemaran sungai tentu adalah kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah di sungai atau praktik ilegal membuang limba industri keperairan sungai.
Tetapi tantangan selanjutnya adalah kemampuan organ dari sapu-sapu ini memiliki pertahanan hidup yang sangat kuat serta daya tahan terhadap polusi atau pencemaran.
Keamanan pangan
Anda perlu mewaspadai mengonsumsi ikan yang berasal dari sungai yang ekosistemnya tercemar baik itu akibat limbah ataupun industri. Karena berpotensi juga mengandung logam berat patogen yang berdampak tidak baik bagi kesehatan Anda. Dan apabila tidak diuji oleh laboratorium tentu ini bisa berakibat fatal.
Yang tidak kalah menarik adalah berbeda ceritanya kalau makan dari budidaya tambak yang terjaga. Karena dalam jangka pendek hingga juga bisa jangka panjang ada berbagai faktor yang juga bisa menyebab kerusakan dari organ pencernaan Anda dimana Anda bisa dalam jangka pendek bisa seperti merasakan gejala-gejala muntah dan jangka panjangnya juga bisa mengganggu organ pencernaan lainnya karena mengandung logam berat dan cemaran lainnya.
Dan menarik juga untuk kita tahui bahwa dalam operasi gabungan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap bahwa residu dari uji sampel laboratorium ini juga cukup tinggi sehingga berbahaya untuk dikonsumsi. Dan jangan dibilang bahwa keberadaan ikan sapu-sapu ini tidak memiliki dampak kepada lingkungan.
Merusak infrastruktur
Penting juga untuk jadi atensi kita terkait dengan pertanyaan apakah ada dampak peningkatan spesies ini terhadap infrastruktur dan lingkungan fisik? Jawabannya ada. Karena dari Permen KP nomor 19 tahun 2020 telah secara resmi mengategorikan ikan sapu-sapu ini sebagai spesies invasif. Dengan ciri utama diantaranya adalah minim predator karena tidak memiliki pemangsa alami.
Baca Juga: Makin Menarik, Nissan Navara Cocok di Perkotaan
Secara alami sapu-sapu ini bukanlah ikan spesies asli Indonesia sehingga apex predatornya ini tidak ada dalam rantai makan. Lalu yang tidak kalah menarik jika misalnya ketika minimnya predator maka berpotensi untuk mengalahkan ikan-ikan lokal ataupun satwa yang hidup di sungai dan danau dan berujung kepada menurunkan biodiversitas dan pada akhirnya juga mendominasi ekosistem. Dan mungkin hari-hari ini yang kita patut antisipasi adalah ujung daripada mendominasi ekosistem.
Dan yang tidak kalah penting juga ikan ini memiliki pola menggali lubang sebagai tempat berkembang biak untuk bertelur dan terlalu banyak lubang ini bisa mengakibatkan erosi hingga longsor kecil di pinggir sungai hingga merusak tanggul alami dan struktur bantaran sungai. Penjagaan terhadap infrastruktur sumber daya air dalam hal ini di sungai dibuka terkadang sangat penting karena harus dijaga sebagai aliran dan juga tampungan air hujan dan masih banyak lagi.
Apa yang sudah dilakukan Pemprov DKI?
Lalu yang menjadi pertanyaan melihat semua faktor di antara yang sudah kita jelaskan tadi apa yang sudah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta? Di antaranya utamanya adalah melakukan pengandalian terhadap populasi di antaranya sudah menangkap sekitar 68.800 ekor atau setara dengan kurang lebih beratnya 7 ton sebagai langkah jangka pendek.
Baca Juga: Makin Menarik, Nissan Navara Cocok di Perkotaan
Dan jangka panjangnya tentu adalah beberapa hal yang diantisipasi yang pertama adalah penugasan khusus dari penyedia jasa lainnya perorangan atau PJLP atau yang kita kenal sebagai pasukan warna-warni bahwa dinas-dinas juga pasti juga akan membantu dan tentu adalah pengelolaan ekosistem sungai atau danau yang menjadi kerjasama lintas stakeholders mulai dari dinas KPKP, Dinas LH hingga Dinas Sumber Daya Air.
Dan merespon langkah ini Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN juga mengungkap pengendalian populasi ini perlu dilakukan sebagai bentuk penanganan terhadap pencemaran sungai dan terakhir terakhir adalah apa yang dikatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terutama dalam temuannya supaya ini bisa menjadi isu yang menjadi urgency yang perlu ditangani dimana biota air di Jakarta ini diperkirakan populasi dari ikan sapu-sapu sudah di atas 60?n secara masif harus dikurangi agar normal Kembali.
Baca Juga: Makin Menarik, Nissan Navara Cocok di Perkotaan
Naiknya populasi ikan sapu-sapu di Jakarta jangan dianggap enteng karena populasi ikan sapu-sapu yang dominan ini tidak hanya bisa mengganggu ekosistem sungai tetapi juga infrastruktur fisik di Ibu Kota. (*)

