Budaya Wisata Religi Masyarakat Kalimantan Selatan


Oleh :  Dra Hartiningsih MIKom *)

ZIARAH makam/kubur atau wisata religi  merupakan  tradisi yang membudaya,  dilakukan umat Islam sejak berabad-abad lalu hingga sekarang. Wisata religi kini menjadi tren yang menggabungkan perjalanan sejarah dengan pengalaman religius yang mendalam.    

Kegiatan ziarah kubur berlangsung  secara turun temurun tersebut merupakan  kegiatan mengunjungi atau menziarahi makam/kubur orang yang telah meninggal dunia.  Kegiatan tersebut dilakukan oleh sanak saudara atau keluarga terdekat.

Diantara tujuan ziarah  untuk mendoakan almarhum/almarhumah/leluhur yang telah meninggal agar penghuni kubur mendapat  kelapangan, mendapat keampunan  dari segala dosa dan amal ibadah diterima Allah SWT serta  mendapat tempat yang mulia di sisiNYa. 

Karena itu ketika peziarah datang  ke makam, maka  yang lazim dilakukan membaca surat Al Fatihah, atau Fatihah 4, surat Yasin, Dadalalil dan doa-doa lainnya yang pahalanya dihadiahkan kepada ahli kubur.

Dalam tradisii masyarakat Kalimantan Selatan kegiatan ziarah makam/kubur termasuk budaya yang sangat kental  dan budaya  tersebut bukan hanya  mengunjungi makam sanak saudara atau orang tua datu nenek yang  telah meninggal. 

Namun juga mengunjungi makam para Wali Allah dengan sebutan makam Habib,  Datu, Tuan Guru/Abah Guru, Kiya I, Syekh  dan sebutan lainnya. Ziarah makam perempaun  yang semasa hidupnya  salehah dan memiliki karomah adalah makam-makam Syarifah.

Di Kalimantan Selatan diketahui  memiliki banyak makam Waliullah baik para habib maupun syarifah dan tersebar di berbagai kabupaten kota.  

Diantara makam ulama yang tidak pernah sepi peziarah adalah Makam  :  Datu Klampaian Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari,  makam  Guru Sekumpul / Abah Guru (H Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) Al Banjari, Hamid Bahasiym/Habib Basairih, Syekh Surgi Mufti  Jamaluddin  Al Banjari,  Tuan Guru Muhammad Nafis dan   Guru Zuhdi, makam Syarifah Badrun dan beberapa Habib, Syekh, Tuan guru, Syarifah dan para ulama lainnya..

Fenomena   wisata religi kini semakin  marak, yang paling ramai dilakukan biasanya  pada bulan Maulid,  mendekati bulan Ramadha namun banyak pula melakukan dua/ tiga hari atau seminggu  dan sebulan sehabis lebaran. 

Wisata religi   sebagian besar dilakukan secara berkelompok baik kelompok keluarga atau kelompok organisasi seperti kelompok pengajian, yasinan. dalail dan  berbagai kelompok kegiatan keagamaan lannya.

Wisata religi   umumnya diawali dengan perjalanan  skala lokal, dan ziarah atau wisata berikutnya   sampai keluar Kalimantan Selatan yakni Pulau  Jawa (Wali Songo),  Jakarta bahkan ke Bali yang dikenal dengan makam (Wali Pitu) dan ke Sulwesi Tengah yakni makam Datu Karama Syekh Abdullah dan Guru Tua Habib Idrus  bin Salim Al-Jufri.

Di sector pariwisata ziarah makam,/kubur dengan mengujungi makam orang-orang besar atau pemimpin yang semasa hidupnya diangungkan, memiliki  kharismatik, karamah atau memiliki kesaktian dan lain sebagainya, disebut dengan wisata religi. Dimana pengujung/wisatawan  memiliki tujuan  khusus berkaitan  dengan keyakinan, keagaman, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan di dalam masyarakat.

Perjalanan wisata religi ke makam-makam tersebut  memberikan makna kecintaan dan penghormatan masyarakat terhadap  para wali Allah. Yang artinya, keberadaan para Wali, Kyai, Syekh. Tuang Gugu/Abah Guru , Habib  dan lain sebagainya bukan saja dihormati pada waktu mereka hidup, melainkan sesudah mereka tiada/meninggal pun tetap dihormati. 

Sebagai salah satu penghormatan  peziarah/wisatawan mengujungi makam dengan berdoa di atas pusara, memohonkan keampunan dari  Allah SWT, memberikan rahmatNya serta meresapi bahwa kita pasti seperti mereka tinggal menunggu panggilan.

Yang cukup menarik dalam kegiatan wisata religi di Kalimantan Selatan sekarang ini adalah peminatan,  kalau  selama ini  peminat wisata religi kebanyakan dilakukan  oleh  ibu-ibu dan sudah berumur (berusia di atas 40 an),  sekarang sudah menyasar pada bapak-bapak.

Hal tersebut boleh jadi karena wisata religi teringrasi dengan  wisata edukasi berupa sejarah nilai kearifan lokal, serta nilai-nilai historis dari situs keagamaan. Terintegrasi dengan bangunan  masjid   yang memiliki nilai sejarah dan keintimewaan lainnya,  seperti masjd yang memeliki nilai sejarah,  masjid tua,  atau sebaliknya masjid yang meniliki interior dan eksterior serba modern dengan   inovasi tinggi, sehingga sangat berkesan di kunjungi.  

Disisi lain bisa jadi pula karena adanya motivasi    antara lain  : Menunaikan hajat/nazar, Mencari suasana tenang, relaksasi rohani, dan melepas penat dalam konteks ibadah.: Meneladani perjalanan para nabi atau tokoh agama sebagai bagian dari peningkatan amalan. ***

*) Peneliti Media dan Kajian Sosial Budaya BRIDA Prov Kalsel 

Lebih baru Lebih lama