Paket Wisata Domestik dan Regional Perlu Difokuskan

 

Wisata Pasar Terapung Banjarmasin

HARIANPAGI.ID, JAKARTA - Kenaikan harga minyak dunia secara global mulai memberikan dampak nyata terhadap industri penerbangan dan pariwisata. Lonjakan biaya operasional maskapai memicu kenaikan harga tiket pesawat secara signifikan, terutama untuk rute internasional jarak jauh. Kondisi ini pun secara perlahan menggeser preferensi serta daya beli wisatawan.

Baca Juga: Batal Berangkat Haji, Berpeluang Bisa Digantikan

Pauline Suharno Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia mengungkapkan, para pelaku industri kini mulai melakukan penyesuaian strategi. Salah satunya dengan mengalihkan fokus promosi ke paket wisata domestik dan regional sebagai respons terhadap melonjaknya harga tiket internasional.

“Anggota kami kini lebih gencar mempromosikan paket wisata di dalam negeri dan juga kawasan regional, seperti ke Singapura atau Thailand. Apalagi dengan adanya kenaikan harga BBM, harga tiket internasional semakin tinggi,” ujar Pauline dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (5/4/2026).

Menurutnya, perubahan strategi ini bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk adaptasi terhadap tekanan biaya yang kian tinggi di sektor transportasi udara. Destinasi regional dinilai lebih kompetitif dari sisi harga, sekaligus tetap menawarkan pengalaman wisata yang menarik bagi masyarakat.

Baca Juga: Batal Berangkat Haji, Berpeluang Bisa Digantikan

Meski peluang wisata domestik dan regional semakin terbuka, Pauline mengingatkan bahwa Indonesia tetap harus berbenah untuk menjaga daya tarik di mata wisatawan mancanegara (wisman).

Kesiapan infrastruktur dan kualitas layanan menjadi faktor krusial yang tidak bisa diabaikan. Ia menegaskan, pembenahan harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, bukan bersifat reaktif saat peluang sudah muncul. “Fasilitas pendukung industri pariwisata harus dipersiapkan jauh-jauh hari, bukan ketika last minute ada peluang baru dimanfaatkan,” tegasnya.

Astindo menilai sejumlah aspek mendasar yang perlu segera diperbaiki antara lain akses jalan menuju destinasi wisata, penataan pedagang kaki lima (PKL), hingga penyediaan fasilitas dasar seperti toilet yang bersih dan memadai. Selain itu, pengawasan terhadap praktik pungutan liar (pungli) juga harus diperketat secara konsisten, baik oleh oknum masyarakat maupun instansi.

Baca Juga: Batal Berangkat Haji, Berpeluang Bisa Digantikan

Pauline mencontohkan, pengalaman kurang menyenangkan di titik layanan publik seperti area imigrasi dapat berdampak luas terhadap citra pariwisata nasional. Salah satu kasus yang sempat mencuat di kawasan imigrasi Batam menjadi pelajaran penting bagi seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, pengalaman negatif yang dialami satu wisatawan saja dapat memicu efek berantai, termasuk menurunnya minat kunjungan dari calon wisatawan lain. “Pengalaman-pengalaman tidak enak yang dialami wisman bisa mengakibatkan trauma dan membuat calon wisatawan berpikir ulang untuk mengalihkan perjalanan mereka ke negara lain,” imbuhnya.

Baca Juga: Batal Berangkat Haji, Berpeluang Bisa Digantikan

Dengan situasi global yang penuh tekanan, industri pariwisata Indonesia dituntut untuk lebih adaptif sekaligus berbenah secara menyeluruh, agar tetap kompetitif di tengah perubahan tren perjalanan dunia. (tim/arh)

Lebih baru Lebih lama