Pejuang Gugur di Peristiwa 9 November 1945 di Banjarmasin

 

Tugu 9 November 1945 di Banjarmasin

HARIANPAGI.ID, BANJARMASIN - Peristiwa 9 November 1945 mewafatkan 9 pejuang yaitu: Badran (23 tahun), Badrun (27 tahun), Pa Ma’Rupi (45 tahun), Dullah (56 tahun), Tarin (56 tahun), Juma’in (57 tahun), Umar (58 tahun), Sepa (58 tahun), dan Utuh (58 tahun).

Baca Juga: Tren Smartphone 2026, Cek HP Yang Kalian Suka

Nama-nama pejuang ini diabadikan di depan Kantor Perbendaharaan Negara Banjarmasin (juga diabadikan di Tugu Jalan 9 November Banjarmasin). Adapun tugu 9 November 1945 didirikan di markas pelarian dan persembunyian para pejuang.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 9 November 1945 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Karena peristiwa ini masyarakat Kalimantan Selatan memperingati Hari Pahlawan pada 9 November.

Tugu 9 November 1945 yang terletak di Jl. Kol. Soepirman No.36, Kelurahan Benua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan didirikan sebagai monumen peringatan peristiwa 9 November 1945 yang terjadi di Banjarmasin.

Baca Juga: Tren Smartphone 2026, Cek HP Yang Kalian Suka

Tugu ini berukuran pendek, berwarna putih, dengan pagar hitam mengelilinginya. Apa sejarah di balik tugu 9 November 1945? Yuk kita jelajahi sejarah kelam perjuangan bangsa Indonesia di tanah Banjarmasin!

Peran Tokoh Pers

Saat proklamasi kemerdekaan di Jakarta, tokoh pers bernama Anang Abdul Hamidhan ditunjuk untuk menjadi perwakilan Kalimantan sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tak butuh waktu lama, berita kemerdekaan RI itu langsung sampai di Banjarmasin.

Segera para pemuda menyebarkan berita tersebut dengan membuat tulisan dari spidol, cat, dan kapur ke gardu, pasar, tiang listrik, pohon, serta dinging di seluruh pelosok Banjarmasin. Harapannya berita kemerdekaan RI dapat segera menyebar luas dan diketahui banyak orang.

Baca Juga: Tren Smartphone 2026, Cek HP Yang Kalian Suka

Meskipun demikian, masyarakat masih menunggu berita kemerdekaan ini untuk diterbitkan di surat kabar Borneo Shimboen milik AA Hamidan. Namun, harapan yang ditunggu-tunggu tak kunjung terlaksana. Setelah diselidiki, ternyata berita tersebut tidak kunjung terbit karena dilarang oleh sisa-sisa tentara Jepang di Banjarmasin.

Pasukan Berani Mati Didirikan

Saat masuk ke Banjarmasin, Belanda langsung melarang perayaan kemerdekaan RI. Mereka yang ketahuan merayakan langsung disekap dan disiksa. Tokoh pemuda Banjarmasin tidak tinggal diam.

Baca Juga: Tren Smartphone 2026, Cek HP Yang Kalian Suka

Pada tanggal 19 September 1945, mereka langsung membentuk organisasi bernama Pasukan Berani Mati – Barisan Pemberontak Republik Indonesia Kalimantan (PBM-BPRIK) dengan tujuan untuk mempercepat didirikannya Pemerintahan Republik Indonesia dan melawan pasukan NICA.

Tidak Boleh Ada Perayaan Kemerdekaan

Tanggal 9 Oktober 1945, didirikan Komite Nasional Indonesia Kalimantan (KNIK) atas desakan para pemuda. KNIK merupakan badan persiapan pembentukan Pemerintahan Republik Indonesia dari Kalimantan.

Pada 10 Oktober 1945 KNIK diresmikan dengan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya dan dikibarkannya bendera merah putih. Selain itu, dilaksanakan pawai keliling kota Banjarmasin yang dimeriahkan oleh ribuan masyarakat Kalimantan. Hal ini membuat pasukan NICA bertindak tegas dengan hanya mengizinkan rakyat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta keliling kota Banjarmasin.

Baca Juga: Tren Smartphone 2026, Cek HP Yang Kalian Suka

Pecahnya Perlawanan 9 November 1945

Para pejuang akhirnya melawan Belanda pada 1 November 1945 dengan mengeroyok dan berhasil menewaskan dua tentara Belanda di Pasar Baru. Akibat keberhasilan tersebut, PMB-BPRIK kembali merencanakan aksi perlawanan pada 9 November 1945.

Di hari itu, setelah salat Jumat, pasukan PBM-BPRIK melakukan aksi penyerangan besar-besaran. Siang itu meletus pertempuran melawan NICA di kota Banjarmasin dengan titik utama di Jl. Jawa.

Pasukan pejuang saat itu memiliki siasat dengan total pasukan 500 orang. Sayap kiri dipimpin oleh Untung Sabri dengan 110 orang, sayap kanan dipimpin oleh Panglima Halid Tafsiar dengan 90 orang, dan pasukan tengah atau inti dipimpin oleh Amin Effendi dengan 300 orang.

Baca Juga: Tren Smartphone 2026, Cek HP Yang Kalian Suka

Persenjataan yang para pasukan pejuang miliki masih sangat minim. Oleh karena itu, banyak pejuang yang mengandalkan ilmu kekebalan. Beberapa pejuang telah latihan cukup lama dan mengadakan tes ketahanan untuk turun pada peristiwa ini. (tim/arh)

Lebih baru Lebih lama