![]() |
| Objek Wisata Paralayang 'Lautan Awan' Tahura Sultan Adam |
HARIANPAGI.ID, BANJARBARU - Pada Sabtu (2/5/2026) sore menginap di Villa Palawan dan Minggu (3/5/2026) pagi berjalan kaki menuju Paralayang (Kawasan Objek Wisata Lautan Awan). ‘Villa Belanda atau Pesanggrahan Kolonial Belanda’ era Tahun 1939.
Baca Juga: Penanaman Pohon di Kawasan Tahura Bukit Soeharto, Ini Kegiatan Otorita IKN
Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan
Adam menjadi salah satu destinasi wisata di Kalimantan Selatan (Kalsel). Namun,
di balik pesonanya yang indah, Tahura Sultan Adam menyimpan banyak kisah.
Villa Palawan dulu dikenal balai
pengobatan atau rumah sakit di era kolonial kisaran tahun 1939, sekitar 30 meter
dari Villa Palawan ada aula (saat ini tempat makan bagi penginap villa) dan
disampingnya kisaran 10 meter ada juga Villa Bangkirai (dulu tempat/rumah para kolonial
belanda tidur/istirahat) tahun 1939 atau dikenal Gunung Basar.
Kini Kawasan Tahura dikelola Dinas
Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Jauh sebelum menjadi destinasi
wisata, Tahura Sultan Adam dulunya adalah hutan pendidikan yang dikelola oleh
Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Baca Juga: Penanaman Pohon di Kawasan Tahura Bukit Soeharto, Ini Kegiatan Otorita IKN
Tanah ini, yang merupakan milik
masyarakat, dipinjamkan melalui seorang tokoh bernama Kai Jahari. Pada masa
itu, wilayah ini murni berfungsi sebagai hutan penelitian bagi para akademisi
dan mahasiswa ULM.
Lokasi tinggi dan berhawa dingin,
terdapat sebuah gunung yang dinamakan Gunung Basar, yang digambarkan sebagai
gunung paling ganas.
Pada masa penjajahan, tempat ini
difungsikan sebagai lokasi peristirahatan dan pengobatan/rumah sakit.
Dilengkapi dengan tempat olahraga dan kolam renang yang memanfaatkan sungai dan
pegunungan di sekitarnya.
Jalan yang membentang dari simpang
tiga hingga ke dalam Tahura Sultan Adam juga memiliki kisahnya sendiri. Jalan
ini dibangun oleh warga masyarakat setempat, hingga mendatangkan pekerja dari
Benua Anam dengan upah berupa rokok, beras, dan lauk pauk.
Baca Juga: Penanaman Pohon di Kawasan Tahura Bukit Soeharto, Ini Kegiatan Otorita IKN
Ketika Presiden Soeharto datang ke
Kalsel, diperkirakan terjadi pada era 1980-an, yang kemudian menjadikan kawasan
ini dinamai Tahura Sultan Adam. Diambil dari nama salah Raja Banjar yang
dihormati, Sultan Adam.
Monumen peringatan kedatangan
Presiden Soeharto itulah didirikan di lokasi ini sebagai pengingat sejarah.
Kawasan Tahura Sultan Adam juga
menyimpan sejarah kelam. Dulunya, pernah menjadi tempat persembunyian
pemberontakan di bawah pimpinan Ibnu Hadjar di era 1960-an, dan konon masih
ditemukan sisa-sisa peluru di beberapa lokasi sebagai saksi bisu.
Sebelum menjadi kawasan yang dikenal
sekarang, daerah Mandiangin dulunya memiliki kampung-kampung kecil yang sering
kali menjadi tempat persembunyian.
![]() |
| Villa Palawan Tahura Sultan Adam |
Baca Juga: Penanaman Pohon di Kawasan Tahura Bukit Soeharto, Ini Kegiatan Otorita IKN
Tahura
Sultan Adam memiliki ketinggian yang bervariasi antara 63 hingga 1.373 meter di atas permukaan laut (mdpl). Khusus
area populer Puncak Mandiangin, ketinggiannya berkisar antara 356 mdpl (Puncak
Tengger) hingga 455 mdpl (Puncak Repeater).
Kini menuju Tahura Sultan
Adam cukup nyaman dan beraspal, dan Pemprov Kalimantan Selatan (Kalsel) konsen
melakukan pembenahan infrastruktur, termasuk jalan naik dan jalan pulang dari
objek wisata dengan membelah gunung Tahura Sultan Adam Kalimantan Selatan
(Kalsel). Yuk Coba Berwisata ke Tahura (tim/arh)



